Sri Mulyani Indrawati. AP/Irwin Fedriansyah
KORANPLUS, Jakarta - Menghitung hari sebelum beranjak meninggalkan tanah air, mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bertemu dengan begawan-begawan ekonomi Indonesia, Senin (24/5).
Menggunakan Alphard hitam, Sri tiba di Gedung Bimasena, Hotel Darmawangsa, Jakarta Selatan, pukul 16.15. Dia langsung menuju sebuah ruangan di lantai 2.
Seorang stafnya mengatakan pertemuan tertutup itu dihadiri para begawan ekonomi Indonesia. Dia menolak menyebutkan nama-nama peserta yang hadir. Yang jelas, pertemuan itu diprakarsai oleh para sesepuh ekonomi itu. "Ibu cuma diundang," ujarnya.
Para pengundang telah hadir sebelum Sri menginjakkan kaki di hotel bintang lima itu. "Pas ibu datang, semua sudah lengkap, Pak Nitisastro juga ada," katanya.
Widjojo Nitisastro, 83 tahun, merupakan ekonom Universitas Indonesia yang menjadi tulang punggung ekonomi Orde Baru. Peraih gelar PhD di Universitas California Berkeley AS ini menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional pada 1971-1973. Kemudian sebagai Menteri Koordinator Perekonomian dan Industri sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 1973-1983.
Punggawa lain yang disebut-sebut hadir dalam pertemuan itu adalah Ali Wardhana, 82 tahun. Mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, tempat Sri menuntut ilmu, ini pernah menjabat Menteri Keuangan sejak 1968 sampai 1983. Dilanjutkan Menteri Koordinator Ekonomi dan Industri dan Pengawasan Pembangunan dari 1983 sampai 1988.
Meskipun Orde Baru tumbang, pemikiran para begawan itu masih dibutuhkan. Pada April 2000, Presiden Abdurrahman Wahid meminta Widjojo "memimpin" Tim Ekonomi Indonesia dalam Paris Club. Agenda pertemuan itu adalah penjadualan ulang utang Indonesia periode April 2000 sampai Maret 2002. Hasilnya, 19 negara donor menyetujui penjadualan ulang utang senilai US$ 5,9 miliar.
sumber:tempointeraktif



Section Widget
Category Widget (bottom-up)
Recent Forum Posts

